BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS �

Rabu, 18 November 2009

AS Akan Sita Empat Masjid Terkait Iran



Ilustrasi (boston.com)
Washington - Para penuntut federal AS telah mengambil langkah-langkah untuk menyita empat masjid AS dan gedung pencakar langit Fifth Avenue. Bangunan-bangunan tersebut dimiliki oleh sebuah organisasi muslim non-profit yang telah lama diduga dikendalikan diam-diam oleh pemerintah Iran.

Para penuntut federal telah mengajukan gugatan sipil di pengadilan federal terhadap organisasi terkait Iran tersebut, Alavi Foundation. Tuntutan tersebut berisi penyitaan aset-aset senilai lebih dari US$ 500 juta.

Aset-aset tersebut mencakup sejumlah rekening bank, pusat-pusat Islam yang terdiri dari sekolah-sekolah dan masjid-masjid di New York City, Maryland, California dan Houston. Juga lebih dari 40 hektar tanah di Virginia dan gedung perkantoran berlantai 36, Fifth Avenue di New York.

Ini akan menjadi salah satu penyitaan kontra-terorisme terbesar sepanjang sejarah AS. Penyitaan properti tersebut akan menjadi pukulan telak bagi Iran. Selama ini pemerintah AS terus menuding pemerintah Iran mendukung terorisme dan mencoba memproduksi bom nuklir.

Menurut para penuntut federal, Alavi Foundation mengelola gedung Fifth Avenue atas nama pemerintah Iran dan bekerja sama dengan perusahaan yang dikenal sebagai Assa Corp, yang secara ilegal menyalurkan jutaan dolar hasil pendapatan rental kantor ke Bank Melli, milik pemerintah Iran.

Bank Melli telah lama dituding AS memberikan dukungan pada program nuklir Iran. Sehingga di AS merupakan tindakan ilegal untuk berurusan dengan bank tersebut.

"Selama dua dekade, urusan-urusan Alavi Foundation telah diatur oleh banyak pejabat Iran, termasuk duta besar Iran untuk PBB, sebagai pelanggaran atas serangkaian hukum Amerika," kata penuntut AS, Preet Bharara seperti dilansir Straits Times, Jumat (13/11/2009).

Aksi penyitaan ini terjadi di tengah memanasnya hubungan AS-Iran atas isu program nuklir Iran. Belakangan hubungan kedua negara kian menegang menyusul penangkapan tiga warga AS di Iran atas tuduhan spionase.

Ada Tiga Jenis Guru, Anda Termasuk yang Mana?



Seorang kawan, yang kebetulan menjadi direktur di sebuah sekolah, membisikkan sesuatu yang penting kepada saya:
“Pak Munif tolong beri motivasi dan semangat para guru ya agar mereka lebih baik lagi dalam bekerja.”

Memang, sekolah sebagai institusi yang di dalamnya merlukan sentuhan manajemen sumber daya manusia—sebagai tingkat manajemen yang tertinggi—sudahlah sewajarnya apabila guru menjadi bagian mahapenting dari institusi tersebut. Bahkan, kualitas pendidikan bangsa ini sesungguhnya lebih banyak ditentukan oleh kualitas para gurunya. Guru adalah ”bos in the class”. Guru adalah orang yang bertatap muka langsung dengan para peserta didik. Artinya, roda komunitas yang bernama sekolah sangat diwarnai oleh kinerja para gurunya.

Pentingnya peranan dan kualitas seorang gurum, sebagaimana telah saya tunjukkan, ternyata berdampingan dengan banyaknya problematika yang dihadapi oleh para guru. Hal yang mendasar pada problem tersebut adalah ”kemauan” untuk maju. Apabila kita percaya tidak ada siswa yang bodoh dengan ”multiple intelligences”-nya masing-masing, maka kita juga harus percaya bahwa ”tidak ada guru yang tidak becus mengajar”. Hanya saja, kenyataan yang terjadi adalah keengganan guru untuk terus belajar dan bekerja dengan baik disebabkan oleh, ada kemungkinan, tidak adanya ”kemauan” untuk belajar dan maju.

Saya sangat setuju dengan pernyataan seorang teman yang memimpin sebuah sekolah yang berkualitas: “Pak Munif tidak semua guru lho mau diberikan pelatihan.” Jika seperti itu, maka sebagus apa pun materi dan kemasan dalam pelatihan itu, biasanya guru tidak akan berhasil mengambil manfaat dari pelatihan itu. Oleh sebab itu, saya merancang sebuah sesi pendaftaran kepada guru-guru saya yang ”mau” ikut pelatihan dengan batasan waktu. Dari situ saja saya sudah tahu, mana guru yang ”tertarik” dan mana yang ”tidak tertarik”.

Dua tahun yang lalu, pemerintah memulai melaksanakan program sertifikasi guru. Program ini sebenarnya diawali dari sebuah hipotesis bahwa guru yang profesional dan berkualitas akan terwujud apabila kesejahteraannya mencukupi. Sebaliknya, jangan harap seorang guru akan profesional jika kesejahteraannya tidak mencukupi untuk kehidupan sehari-hari.

Beberapa bulan yang lalu, ternyata hipotesisi itu terjawab. Dari data statistik yang dianalisis oleh teman-teman asesor menyebutkan bahwa para guru penerima tunjangan profesi yang cukup besar, ternyata belum menunjukkan kemajuan kualitas dalam proses mengajarnya. Mereka tidak berubah. Mereka tetap mengajar biasa-biasa saja. Meskipun mereka sudah menerima tunjangan profesi, sebagaimana yang diharapkan pemerintah untuk menjadi guru yang profesional, dengan berbagai kriteria yang sudah ditentukan dalam proses sertifikasi guru. Jadi, menurut saya perlu ditambahkan hipotesis baru, yaitu ”besarnya penghasilan guru belum tentu menjadi penyebab berkembangnya kualitas guru”.

Nah, dilihat dari faktor ”kemauan” untuk maju, maka ada tiga jenis guru. Pertama, ”guru robot”, yaitu guru yang bekerja persis seperti robot. Mereka hanya masuk, mengajar, lalu pulang. Mereka tidak peduli kepada beban materi yang harus disampaikan kepada siswa. Mereka tidak mempunyai kepedulian terhadap kesulitan siswa dalam menerima materi. Apalagi kepedulian terhadap masalah sesama guru dan sekolah pada umumnya. Mereka mirip robot yang selalu menjalankan peritnah berdasarkan apa saja yang sudah diprogramkan.

Guru jenis ini banyak sekali menggunakan ungkapan seperti ini: “Wah …itu bukan masalahku…itu masalah kamu. Jadi selesaikan sendiri ….” Atau “Maaf aku tidak dapat membantu … sebab hal ini bukan tugas saya…”

Kedua, ”guru materialis”, yaitu guru yang selalu melakukan hitung-hitungan, mirip dengan aktivitas bisnis jual-beli atau yang lainnya. Parahnya, yang dijadikan patokannya adalah ”hak” yang mereka terima. Setelah ”hak”-nya diperoleh, barulah ”kewajiban” mereka akan dilaksanakan bergantung besarnya ”hak” yang mereka terima. Guru ini pada awalnya merasa profesional, namun akhirnya akan terjebak dalam ”kesombongan:” dalam bekerja. Sehingga tidak terlihat manfaatnya dalam menjalankan pekerjaannya.

Ungkapan-ungkapan yang banyak kita dengan dari guru jenis ini antara lain: “Lha wong cuma digaji sekian saja… kok mengharapkan saya total dalam mengajar… jangan harap ya …” Atau, “Percuma mau kreatif, lha wong penghasilan yang diberikan kepada saya hanya cukup untuk biaya transpor kok…” Atau, “Kalau mengharapkan saya bekerja baik, ya turuti dong permintaan gaji saya sebesar...”

Ketiga, ”gurunya manusia”, yaitu guru yang mempunyai keikhlasan dalam hal mengajar dan belajar. Guru yang mempunyai keyakinan bahwa target pekerjaannya adalah membuat para siswanya berhasil memahami materi-materi yang diajarkan. Guru yang ikhlas untuk berintrospeksi apabila ada siswanya yang tidak bisa memahami materi ajar. Guru yang berusaha meluangkan waktu untuk belajar. Sebab mereka sadar bahwa profesi guru adalah makhluk yang tidak boleh berhenti untuk belajar. Guru yang juga punya keinginan kuat dan serius ketika mengikuti pelatihan dan mengembangan.

”Gurunya manusia” jelas juga manusia yang membutuhkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bedanya ”gurunya manusia” dengan guru jenis lain adalah dia menempatkan penghasilan sebagai akibat yang akan didapat dengan menjalankan kewajibannya—yaitu keikhlasannya mengajar dan belajar. Sudah banyak contoh di mana seorang guru tiba-tiba diguyur oleh Allah Swt. dengan rezeki yang datang dari dari pintu yang tidak terduga.

Ada teman guru yang mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri sebab mempunyai prestasi dalam membuat ”lesson plan”. Ada teman guru mendapatkan rezeki sebab tekun menulis buku ajar untuk siswa di sekolah tempat dia bekerja. Ada teman guru yang menulis kisah-kisah yang unik yang dialami di kelas pada saat dia belajar. Ada teman guru yang sekarang menjadi ”bintang” dan pemikirannya banyak sekali dibutuhkan untuk banyak guru di Indonesia, dan lain-lain.
Anda termasuk guru jenis yang manakah?

Gara-gara Menunduk pada Kaisar Jepang, Obama Dikritik Habis-habisan



Washington - Foto-foto Presiden AS Barack Obama sewaktu bertemu Kaisar Jepang tengah menjadi pembahasan di Amerika. Sebab saat bersalaman dengan Kaisar Akihito, Obama menunduk hormat.

Tak ayal, sikap Obama itu menuai kritikan di AS. Acara-acara talk show politik telah berulang kali menayangkan momen tersebut. Menurut para pengkritik, Obama seharusnya berdiri tegak saat mewakili Amerika di luar negeri.

"Saya tidak tahu kenapa Presiden Obama berpikir itu pantas. Mungkin dia pikir itu akan bagus di Jepang. Tapi tidak pantas bagi seorang presiden Amerika untuk menunduk di depan orang asing," cetus kritikus William Kristol di acara Fox News Sunday seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (17/11/2009).

Bahkan menurutnya, sikap Obama itu menunjukkan AS telah menjadi lemah dan terlalu segan di bawah pemerintahan Obama.

"Itu buruk. Saya tak ingin melihatnya," kata kritikus Bill Bennett di program "State of the Union" di stasiun televisi CNN.

Para kritikus konservatif bahkan membandingkan foto Obama yang menunduk tersebut dengan mantan Wakil Presiden AS Dick Cheney pada tahun 2007 di Jepang. Saat itu Cheney menyalami Kaisar Jepang dengan jabatan tangan erat namun tidak menunduk.

Selasa, 17 November 2009

Bakteri pun Bisa Sebabkan Stroke

Bakteri pun Bisa Sebabkan Stroke
Ilustrasi

Selasa, 17 November 2009 | 17:35 WIB

- Meski tekanan darah tinggi dan merokok merupakan faktor risiko terjadinya stroke, namun tak sedikit kasus stroke yang tak bisa ditemukan penyebabnya. Para ahli kini mengarahkan kecurigaannya pada infeksi bakteri berbahaya atau patogen.

Studi teranyar menemukan kaitan antara lima jenis patogen dengan meningkatnya risiko penyakit yang menempati urutan ketiga penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian di dunia setelah penyakit jantung koroner dan semua jenis kanker ini.

Infeksi patogen tersebut antara lain Chlamydia pneumoniae, Helicobacter pylori, cytomegalovirus, dan virus herpes simplex 1 dan 2.

"Masing-masing bakteri ini mungkin bersembunyi setelah infeksi akut dan terus bertahan di tubuh dalam kadar infeksi kronik skala rendah," kata ketua peneliti Dr.Mitchell S.V. Elkind, profesor neurology dari Columbia University Medical Center.

Ia menambahkan, infeksi dalam kadar rendah serta inflamasi pada dinding pembuluh darah bisa menimbulkan terjadinya stroke. Dalam risetnya, Elkind dan timnya mengamati 1.625 penduduk yang tinggal di Manhattan. Rata-rata responden itu berusia 68 tahun dan bebas stroke pada awal studi. Delapan tahun kemudian, 67 responden dilaporkan mengalami serangan stroke.

Dr. Elkind mengingatkan bahwa studi ini memang tidak membuktikan hubungan sebab akibat antara infeksi dan stroke, hanya hubungan tidak langsung.

Hujan Meteor di Indonesia

Salah satu hujan meteor tahunan yang terbaik akan mencapai puncaknya pada sepertiga malam Rabu (18/11). Tempat pengamatan terbaik ada di Asia, tapi pengamat di Amerika Utara juga dapat menikmati pemandangan menakjubkan hujan meteor Leonid, jika cuaca memungkinkan.

Hujan Leonid merupakan acara tahunan, jika langit terlihat jelas dan cahaya bulan tidak mengganggu. Tahun ini, bulan sudah dekat fase baru, dan bukan faktor yang mengganggu. Bagi siapa pun di belahan bumi utara dengan langit gelap, jauh dari perkotaan dan pinggiran pencahayaan, acara ini jangan sampai dilewatkan dengan begadang sepanjang malam.

"Kami memperkirakan 20-30 meteor per jam di Amerika, dan sebanyak 200-300 meteor per jam di penjuru Asia," ujar Bill Cooke dari kantor Meteoroid environment NASA. Astronom lain yang bekerja di bidang yang baru lahir ini memprediksi hujan meteor telah diperkirakan.

Penduduk perkotaan dan pinggiran kota mungkin tak akan bisa melihat dengan jelas karena cahaya meteor tersamar atau tenggelam oleh lampu lokal.
Disebut hujan meteor Leonid karena meteor-meteor yang melesat muncul dari pusat radian di atas rasi bintang Leo. Bulan November ini, rasi bintang ini bisa dilihat di arah Timur Laut pada malam hari. Meteor Leonid diciptakan oleh Komet Tempel-Tuttle, yang melewati bagian dalam tata surya setiap 33 tahun pada orbitnya yang mengelilingi matahari. Setiap kali lewat, ia meninggalkan sungai baru dari puing-puing meteor, sebagian besar potongan-potongan batu es dan tidak lebih besar dari butiran pasir, tetapi beberapa seukuran kacang polong.

"Kita bisa memprediksi kapan bumi akan menyeberangi sungai yang penuh dengan puing dengan akurasi yang cukup bagus," kata Cooke. "Kita tidak tahu berapa banyak puing-puing yang ada di setiap sungai."

Ketika planet bumi melewati puing-puing meteor dan menghantam atmosfer maka akan menguap. Kadang-kadang secara dramatis menciptakan lintasan cahaya bahkan bola api dengan jejak yang tampak berasap yang dapat tetap terlihat selama beberapa menit.

Leonid bergerak dalam arah yang berlawanan dari Bumi, menghasilkan dampak kecepatan 72 kilometer per detik -lebih tinggi daripada meteor lain. "Kecepatan seperti itu cenderung menghasilkan meteor dengan warna putih, biru, biru laut dan bahkan hijau," kata Joe Rao, kolomnis SPACE.com.

Pada saat itu, Bumi akan melewati pecahan-pecahan ekor Komet Tempel-Tuttle sehingga dapat kita dapat melihat kira-kira sebanyak 300 meteor Leonids per jam.


berikut beberapa tips sederhana buat ngeliat hujan meteor :

Yang terbaik ada pergi daerah pedesaan. Keluar kota jika Anda bisa. Jika Anda memiliki lampu yang bisa ditenteng, maka pergilah ke bukit atau tempat yang tak terhalang bangunan dan pohon tinggi.

Baju hangat dan selimut atau kursi malas menjadi pilihan tepat karena anda akan semalaman bergadang di alam terbuka. Leonids dapat muncul di mana saja, dengan possi berbaring akan memudahkan mata menyapu langit di atas dengan luas, sehingga setiap gerakan cahaya di langit bisa tertangkap mata.

Biarkan mata anda selama 15 menit untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan. Leonids biasanya datang dalam ledakan. Tidak ada peralatan khusus yang diperlukan. Teleskop dan teropong tidak berguna karena meteor bergerak terlalu cepat.

Planet Bumi akan melewati sungai yang lebih padat kemudian, tepat sebelum fajar hari Rabu di Indonesia dan Cina. Tapi meteor tidak akan terlihat dari Amerika Utara karena terjadi pada siang hari.

Jangan lupa kamera, baik untuk pemotretan atau video. Sangat dianjurkan untuk menggunakan tripod. Selain bisa meredam getaran dan goyang, tangan juga tidak pegal mengarahkan kamera terus menerus ke atas.

Sebelum mengarahkan kamera ke langit cek terlebih dulu kepekaan cahaya atau sering disebut ISO atau ASA. Bisa menggunakan asa rendah untuk mendapatkan efek gerak atau asa tinggi untuk bisa membekukan obyek dan mendapat hasil yang maksimal, asa rendah antara 100-500 dan asa tinggi pada 800-3.200 (tergantung kemampuan kamera dan kondisi yang terjadi). Untuk kamera digital jangan ragu untuk mengubah-ubah asa untuk mendapatkan hasil terbaik.

Untuk kamera video, jangan lupa mengatur white balance, agar mendapatkan warna sesuai atau mendekati kenyataan. Caranya dengan menaruh kertas putih di depan kamera dan direkam beberapa menit. Untuk kamera foto digital, bisa dilakukan white balance dengan beberapa kali menjepret ke kertas putih beberapa kali.

Jangan lupa berdoa semoga tidak mendung dan langit cerah. Selamat mencoba..met begadang.

Kata yang Baik Laksana Pohon yang Baik

“….perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik. Akarnya kokoh (menghunjam tanah), dan ranting-rantingnya menjulang ke langit….” (QS Ibrahim ayat 24)

Membaca ayat Al-Quran tersebut, niscaya kita menyadari bahwa apa yang kita lihat terjadi di negeri tercinta belakangan ini sungguh berlawanan. Betapa leceh nilai kata-kata dalam kehebohan yang kita saksikan melalui media massa terutama televisi itu—kata-kata dalam pembicaraan telepon yang disadap, kata-kata dalam BAP yang secara resmi sudah ditandatangani kemudian diingkari, kata-kata dalam kesaksian di bawah sumpah yang sulit diyakini.


Sebuah jalan di Pakistan mengabadikan nama Annemarie Schimmel (7 April 1922-26 Januari 2003).

Dalam kehebohan yang sungguh memprihatinkan inilah dengan sedih saya mengenang mendiang Annemarie Schimmel, seorang profesor kelahiran Jerman yang juga dikenal sebagai pakar budaya Indo-Muslim, penulis sekitar 50 buku tentang Islam dan Sufisme, dan juga seorang penyair. Prof. Schimmel mungkin hanyalah satu dari sedikit orang yang sangat percaya pada kekuatan kata, pada peran penting kata-kata dalam kehidupan manusia. Demikian kuat keyakinan itu, hingga dia pernah mengatakan, bahkan hanya kata saja akan mampu menyatukan dunia. Tentu, sebagaimana Budha pernah bersabda bahwa “Better than a thousand hollow words, is one word that brings peace—di hadapan seribu kata-kata dangkal, lebih baik tentu satu kata yang membawa perdamaian, ” maka kata yang berguna hanyalah kata yang bermakna mulia. Kata yang baik.

Sebuah Jembatan yang Terbangun dari Kata-Kata
”Kata yang baik laksana pohon yang baik...”, demikian Annemarie Schimmel mengutip ayat Al Quran di atas. ”Kata diyakini sebagai suatu kekuatan kreatif oleh sebagian besar agama di dunia; katalah yang mengantarkan wahyu; kata diamanahkan kepada umat manusia sebagai titipan yang harus dijaga, jangan sampai ada yang teraniaya, terfitnah, atau terbunuh oleh kata-kata.”

Pada musim semi 1996, perempuan berperawakan mungil itu menjadi satu-satunya pusat perhatian dalam pertemuan yang dihadiri para penulis, penerbit, dan pejabat tinggi Jerman, termasuk Presiden Roman Herzog. Dan dia bicara tentang kata.

”Kata memiliki kekuatan yang tak dapat kita ukur. Dan pada kekuatan kata inilah terletak tanggung jawab para penyair, lebih-lebih lagi para penerjemah, karena satu kesalahan samar saja dapat memicu kesalahpahaman yang berbahaya.”

Nyata benar pesan yang disampaikan Schimmel saat menerima penghargaan tahunan Peace Prize dari German Books Trade itu bukan sekadar sambutan seremonial. Persis setelah namanya diumumkan sebagai pemenang Peace Price setahun sebelumnya, sekitar dua ratus intelektual Jerman dan Eropa memprotes penganugerahan tersebut. Lewat kata-kata, mereka menuding Schimmel mendukung apa yang mereka namakan sebagai ”fundamentalisme Islam—sebuah kampanye yang disebut Schimmel telah ”menghancurkan apa yang saya bangun hampir seumur hidup saya, melukai hati dan pikiran saya....” Kendati demikian, Schimmel tetap berbesar hati bahkan memanjatkan doa, ”Semoga mereka yang menyerang saya bahkan tanpa mengenal saya secara pribadi atau membaca karya-karya saya, tidak akan mengalami luka seperti yang saya rasakan.”

Ketulusan Schimmel itu tentu tak lepas dari masa panjang kehidupan yang dilaluinya dengan merawat dan mencintai ”kata-kata yang baik”. Wanita kelahiran Erfurt, Jerman, ini belum lama beranjak dari usia 10 tahun ketika dia terpikat pada puisi-puisi berbahasa Arab. Lewat jalan kata-kata pula dia mengenal sejarah dan kebudayaan Islam, menekuni kajian Islam dan menghasilkan karya-karya monumental seperti Gabriel’s Wing: A Study into the Religious Ideas of Sir Muhammad Iqbal; Mystical Dimensions of Islam; And Muhammad is His Messenger; A Two Colored Brocade: The Imagery of Persian Poetry; Calligraphy and Islamic Culture.

Demikian besar keyakinan Schimmel pada kata-kata, seyakin dia pada moto penyair Jerman Friedrich Ruckert, bahwa “Puisi semata mampu menuntun manusia menuju rekonsiliasi dunia.” Puisi, menurut Ruckert, adalah “lidah utama umat manusia”; puisi menghubungkan manusia karena ia menjadi bagian dari setiap peradaban di dunia.

Schimmel menggambarkan kekuatan kata dalam membangun hubungan antarmanusia ini dengan menyitir sebuah cerita dalam tulisan Mawlana Jalaluddin Rumi. Dalam prosa berbahasa Persia itu, Rumi—sufi dan penyair abad ke-13 yang mendapat perhatian besar Schimmel selain penyair Pakistan Muhammad Iqbal—mengisahkan seorang anak laki-laki yang sering mengeluh kepada ibunya tentang sosok hitam yang menakutkannya. Akhirnya sang ibu menasihati agar anaknya menyapa saja sosok hitam tersebut karena sifat sosok itu bisa diketahui dari jawabannya terhadap sapaan kita. Sebab kata-kata, sebagaimana sering dinyatakan para penyair Persia, menyingkapkan sifat pembicaranya layaknya bebauan—persis dengan kenyataan bahwa kita tak mungkin tertipu oleh kue yang bertabur bawang putih, bukannya almond, kendati penampilannya sungguh mengundang selera.

Pesona kata jua yang telah membawa Annemarie Schimmel melanglang berbagai kawasan masyarakat Muslim; masyarakat yang disebutnya lebih terpesona pada kata dan bahasa, berbeda dengan rekannya di Barat yang lebih terpikat pada musik. Di usianya yang masih belia ketika itu, sebagai profesor Sejarah Agama di Universitas Ankara, Schimmel seolah mengenali kembali sudut-sudut Istanbul masa lalu melalui baris-baris tentang kota indah itu, yang didendangkan para penyair Turki selama hampir lima abad. Schimmel pun mampu mencintai budaya Pakistan melalui syair-syair yang dinyanyikan di seluruh provinsi di negara itu. Schimmel juga sempat mencatat pengalaman seorang mahasiswanya, satu di antara warga Amerika yang disandera di Teheran saat terjadi Revolusi Iran. Sang mahasiswa menyadari perubahan sikap penyanderanya, ketika dia melafalkan sebuah syair Persia. Kata-kata dalam syair itu telah menjadi sebuah jembatan, menghapuskan perbedaan ideologis yang demikian dalam. Persis seperti yang dikatakan Herder, “Dari puisi kita mendapatkan pemahaman tentang sebuah zaman atau suatu bangsa secara mendalam, lebih ketimbang yang kita dapatkan dari sejarah politik dan militer.”

Sang Pembangun Jembatan itu kini telah tiada. Annemarie Schimmel, meninggal dunia 26 Januari 2003 di Bonn, Jerman, pada usia 80 tahun. Hanya semangat dan kecintaannya terhadap “kata-kata yang baik” yang dapat kita lestarikan, dan sebenarnyalah kita perlukan, di era kini ketika kata-kata lebih sering dipermain-mainkan ketimbang meyakinkan; lebih sering memisahkan ketimbang menyatukan; lebih sering memutuskan ketimbang menghubungkan. Betapa terasa kini semangat dan kecintaan Schimmel itu demikian berharga. Dan betapa mengharukan karenanya, kerendahan hati pencinta kata itu, yang tecermin dalam puisinya:

sang pencinta,
menenun satin dan brokat
dari air mata, O Kawan, agar dapat menghamparkannya
suatu hari, di bawah telapak kakimu...
dan aku menenun
sutra kata-kata yang selalu baru
hanya untuk menyembunyikanmu

Senin, 16 November 2009

The World's Ugliest Buildings

Different people have different criteria for what makes a structure unappealing. “The ugliest buildings are the anonymous ones,” says Christopher Bonanos, who edits architecture criticism at New York magazine. “Even if an experimental, high-profile building doesn’t quite deliver, at least the architect is trying something. A boring building is a warehouse in the middle of New Jersey.”


For Jason Fifield, an associate at Ankrom Moisan Architects in Portland, what makes a building ugly “is when the design isn’t generated by real reasons but rather by arbitrariness, just for the sake of creating an image.”

To compile our list of the world’s ugliest structures, we consulted with architects and design experts as well as the general public. Pretty much everybody had something to say. For instance, there aren’t many admirers of the spherical houses on long pole “stems” planted, like so many mushrooms, in the Netherlands. (The architect was given free rein courtesy of a Dutch subsidy for experimental housing.) Then there’s the midwestern corporate headquarters that takes the form of a huge picnic basket. Sure, it’s funny from the outside, but probably not for the employees of Longaberger, in Newark, OH, who have to go work in a hamper every day.



Harold Washington Library

Chicago


If buildings came with footnotes, this one, named for a beloved former mayor who deserved better, would have pages worth of citations. Neoclassical references collide with a glass-and-steel Mannerist roof; throw in some red brick, granite, and aluminum—and a bad sense of scale—and you’ve got way too much architecture class for one day.


The Ugly Truth: Opened in 1991 and designed by the firm Hammond, Beeby, and Babka, the Chicago public library has a helter-skelter application of motifs and styles that’s “locked in the postmodern era,” says Peter Koliopoulos of Circle West Architects in Scottsdale, Ariz.


Longaberger Home Office

Newark, Ohio


If you worked here, you’d be conducting business in a 9,000-ton copy of a woven-wood basket. Its stucco-over-steel construction was an award-winning feat, apparently; the synthetic plaster received a prize. But it’s as if, in 1997, a giant-size Little Red Riding Hood set down her seven-story hamper on a flat section of Ohio.


The Ugly Truth: True, the company purveys handcrafted baskets. And founder Dave Longaberger’s dream headquarters was a replica of his favorite basket. But hey, Crate & Barrel employees don’t schedule meetings in a 10-story sofa.


The Ideal Palace

Hauterives, France


Cinderella’s dream digs it’s not, but Le Palais Idéal does bring to mind a fairy tale — the kind one might have visions of after dropping acid. Gargoyles peer out at grottoes with Hindu temples, and tiny mosque-motifs adorn squiggly stone pillars.


The Ugly Truth: In the mid-1800s, Ferdinand Cheval tripped over a stone while delivering mail and was seized with inspiration—his life’s work would be to build a stone château. Over the next three decades, he marked stones while covering his route, returning in the evening with a wheelbarrow to collect them.


The Portland Building

Portland, Ore.


Let’s break out the government-building checklist. Small, boring windows? Check. Humdrum off-white masonry? Yes. Terracotta pilasters and shiny blue glass? That, too. The first three levels of the squat, 15-story municipal-services structure are covered in dark green tiles, adding to the bewildering gaudy-meets-tedious tone.


The Ugly Truth: Michael Graves won a competition to design the building in 1982. Postmodernism was all the rage in the ’80s, which explains the randomly-stuck-on historical motifs. “Many buildings from that decade look fake,” says architect Stephen R. Connors, who has his own firm in Warwick, NY.


Bolwoningen Houses

Hertogenbosch, Netherlands


If Lewis Carroll’s Alice wandered into a 1960s sci-fi flick, she might have come across something like these bulbous houses. The residents live inside bizarre-looking bubbles (small ones, at 18 feet across) with UFO-like windows.


The Ugly Truth: In the late 1970s, the Dutch government offered subsidies for experimental housing, and the architect—one Dries Kreijkamp—certainly complied with the directive. The 50 bolwoningen (bol = sphere, woningen = houses) sprouted up in a city that seems to infect artists with a fantastical streak; it’s the hometown of Hieronymus Bosch, the 15th-century painter known for his half-dream, half-nightmare-like renderings.


The Experience Music Project

Seattle


Sure, a building dedicated to rock music shouldn’t be too conservative. The problem? In not looking like anything in particular, it appears anchored in nothing. Of course, people have tried to describe it, and have come up with everything from “a multicolored blob” to “open-heart surgery.”


The Ugly Truth: Architect Frank Gehry has said the inspirations for his 140,000-square-foot structure, which opened in 2000, include a smashed guitar and guitars in general, evident in the colors (glimmering purple, powder blue) and metal materials (aluminum, steel). The museum, founded by Microsoft billionaire Paul Allen, is also an example of Gehry’s signature style, made most famous by the Guggenheim in Bilbao, Spain. But according to architect Jason Fifield of Ankrom Moisan Architects in Portland, OR, “his work at Bilbao makes much more sense because there’s a connection between the sculptural forms and the surrounding landscape.”


National Library

Minsk, Belarus


You can’t really hate this glass-paneled, 23-story rhombicuboctahedron (a solid with 8 triangles and 18 squares), complete with color-changing LEDs to make it sparkle at night. After all, it’s difficult to begrudge a library with such mojo. But the designers should have stopped there. Instead, what’s referred to as “the diamond” sits atop a geometry equation gone wrong—tiered circles, huge triangles, winglike flaps.


The Ugly Truth: The winners of a government-sponsored search, architects Michael Vinogradov and Viktor Kramarenko, were expected to make a statement. The government wanted tourist-attracting drama, a desire that seems to have been fulfilled; the 2006 opening attracted a flurry of attention.


Metropolitan Cathedral

Liverpool, England


Cathedrals like this one, officially named Metropolitan Cathedral of Christ the King, should conjure up thoughts of heavenly repose. But here, congregants look up and imagine getting impaled on those unfriendly spires — that, or they plan their next camping trip, inspired by buttresses that recall a fancy beige tent.


The Ugly Truth: Well, it was the ’60s. Plus, architect Frederick Gibberd was charged with getting the cathedral up on a tight schedule and budget. Result: not long after the 1967 opening, mosaic tiles started popping off, and the roof began leaking.